Pedoman Akreditasi RS

Akhir-akhir ini sering ku jumpai update status teman-temanku yang bekerja di rumah sakit tentang repotnya akreditasi, mulai dari yang belum punya gambaran tentang akreditasi hingga yang harus “tentiran” akreditasi. Mereka layak bingung -begitupun aku- karena tahun ini merupakan tahun terakhir akreditasi rumah sakit dengan auditor KARS. Sedangkan tahun 2012, Kemkes RI mencanangkan akreditasi rumah sakit menggunakan sistem JCI (Joint Committe International).

Untuk rumah sakit, ada 16 pelayanan yang harus terakreditasi termasuk pelayanan farmasi. Karena pelayanan farmasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pelayanan rumah sakit.

Berikut di bawah ini 7 standar pelayanan farmasi yang harus dipenuhi dalam akreditasi rumah sakit :

Standar

Parameter

Cara pembuktian

Std 1.

Falsafah dan Tujuan

S1.P1   Kebijakan pelayanan farmasi harus ditetapkan untuk mencerminkan Tujuan, Fungsi dan Cakupan Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit SK tentang kebijakan pelayanan farmasi dari pimpinan rumah sakit, bukti sosialisasi
S1.P2   Pelayanan farmasi diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan pasien Ketetapan tertulis mengenai Pengelolaan Perbekalan Farmasi dan Pelayanan Kefarmasian, SK Panitia Pengadaan dan Panitia Penerimaan yang mencantumkan staf farmasi sebagai anggota, Laporan, Catatan evaluasi 

Std 2.

Administrasi dan Pengelolaan

S2.P1   Adanya gaban organisasi lengkap yang menggambarkan garis tanggung jawab dan koordinasi di dalam maupun di luar pelayanan farmasi SK organisasi, Bagan organisasi dengan pejabatnya, uraian tugas, fungsi, wewenang dan tanggung jawab secara tertulis, bukti penyebaran informasi, catatan evaluasi
S2.P2   Komite/Sub-Komite/Panitia Farmasi dan Terapi (KFT) harus dibentuk di rumah sakit Program kerja, notulen dan laporan rapat, SK pembentukan KFT, jadwal kegiatan, kerangka acuan program, Formularium yang direvisi minimal setiap 3 tahun, Standar terapi (untuk RSU, minimal mencakup Pelayanan Medis Spesialistik Dasar), Laporan evaluasi penulisan resep dan penggunaan obat generic, Kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan penggunaan obat di rumah sakit, catatan evaluasi dan tindak lanjut 

Std 3.

Staf dan Pimpinan

S3.P1   Pelayanan farmasi dipimpin oleh apoteker Surat terdaftar di departemen kesehatan, surat terdaftar di asosiasi profesi, surat ijin kerja, surat persetujuan penempatan dari kanwil depkes setempat, surat keputusan direktur, ijasah, sertifikat 
S3.P2   Adanya tenaga kefarmasian yang cukup jumlah dan sesuai kualifikasinya Analisa kebutuhan tenaga kefarmasian, daftar tenaga kefarmasian, Sk penugasan dari pimpinan RS, ijasah, sertifikat
S3.P3   Ada evaluasi kinerja dari tenaga kefarmasian Ketentuan tertulis, prosedur evaluasi, hasil evaluasi, laporan, rekomendasi dan tindak lanjut

Std 4

Fasilitas dan Peralatan

S4.P1   Tersedianya ruang/tempat pengelolaan perbekalan farmasi dan pelayanan kefarmasian Denah RS yang memperlihatkan lokasi unit kerja farmasi, denah unit kerja farmasi dengan rincian ruang/tempat pengelolaan perbekalan farmasi dan pelayanan kefarmasian 
S4.P2   Adanya fasilitas peralatan yang cukup dan memenuhi syarat untuk mendukung kegiatan kefarmasian Daftar peralatan dan ketersediaannya masing-masing sesuai buku pedoman. Blanko copy resep, kartu stok, formulir laporan narkotika dan psikotropika, buku-buku kefarmasian, kumpulan resep 3 tahun terakhir, hasil evaluasi dan tindak lanjut, buku formularium RS setempat, dan dokumentasi pembuatan obat (bila ada kegiatan produksi) 

Std 5.

Kebijakan dan Prosedur

S5.P1   Ada kebijakan dan prosedur tertulis mengenai pengelolaan perbekalan farmasi SOP, catatan evaluasi dan tindak lanjut
S5.P2   Ada kebijakan dan prosedur tertulis mengenai pelayanan kefarmasian dalam penggunaan obat dan alat kesehatan Protap/SOP, laporan kegiatan kefarmasian, catatan evaluasi dan tindak lanjut

Std 6.

Pengembangan staf dan program pendidikan

S6.P1   Ada program orientasi bagi pegawai baru di instalasi/bagian farmasi agar dapat memahami tugas pekerjaan dan tanggung jawabnya Program orientasi, jadwal kegiatan, laporan pelaksanaan kegiatan, catatan evaluasi
S6.P2   Ada program pendidikan berkelanjutan, pelatihan ataupun pertemuan ilmiah bagi semua petugas untuk meningkatkan keterampilan, pengetahuan dan kemampuannya Program pendidikan dan pelatihan, jadwal kegiatan, laporan pelaksanaan kegiatan, catatan evaluasi, sertifikat

Std 7.

Evaluasi dan Pengendalian Mutu

S7.P1   Ada program/kegiatan  peningkatan mutu pelayanan kefarmasian yang ditetapkan oleh pimpinan RS Program tertulis peningkatan mutu pelayanan kefarmasian, jadwal kegiatan, laporan pelaksanaan kegiatan, catatan evaluasi, rekomendasi dan tindak lanjut
S7.P2   Tersedia data untuk digunakan sebagai dasar melakukan analisa dan evaluasi terhadap mutu pelayanan Data, catatan evaluasi, dan tindak lanjut
S7.P3   Instalasi/bagian farmasi harus menyelenggarakan pertemuan secara berkala untuk membicarakan masalah-masalah dalam meningkatkan pelayanan farmasi Ketetapan pimpinan RS tentang jadwal rapat, notulen rapat, daftar hadir, laporan, rekomendasi dan tindak lanjut

QCC PADI @ICQCC 2011 Yokohama

Tahun 2011 ini merupakan puncak prestasi bagi QCC PADI Instalasi Farmasi RSUD Dr Saiful Anwar Malang (RSSA). Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan QCC PADI mendapatkan Excellent Award pada ajang International Convention on QC Circle 2011 (ICQCC) Yokohama Jepang, yang diselengarakan pada tanggal 11-14 September 2011. Acara ini diikuti oleh tim QCC dari 13 negara se-Asia Pasifik, seperti Jepang, Taiwan, Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, India, dan negara lainnya.

Pada tahun ini Indonesia sendiri mengirimkan 10 tim QCC yang berasal dari berbagai perusahaan/instansi termasuk RSSA. Dari 10 tim tersebut, 9 tim QCC berhasil mendapatkan Excellent Award dan 1 Distinguish Award. Hasil yang diperoleh tersebut mengukuhkan Indonesia sebagai salah satu negara terbaik dalam penerapan QC Tools.

RSSA yang diwakili oleh QCC PADI beranggotakan Reta AW, S.Farm., Apt, Vicky Puspitasari, S.Farm., Apt, Indri Widyastuti, S.Farm., Apt dan 2 wakil manajemen RSSA. Tema perbaikan mutu yang diusung adalah “Menurunkan sisa antibiotika injeksi yang tidak habis terpakai pada pasien pediatrik”.

Latar belakang diambilnya tema tersebut berdasarkan banyaknya kejadian sisa obat injeksi pada pasien pediatrik dan hasil temuan SPI. Sehingga kepala instalasi farmasi menugaskan tim QCC PADI untuk menyelesaikan masalah tersebut karena jika tidak segera ditangani akan memberikan dampak negatif.

Untuk menangani masalah tersebut, QCC PADI menggunakan metode PDCA Tulta dalam melakukan perbaikan. Dengan dilakukannya perbaikan mutu maka diharapkan dapat membawa dampak positif diantaranya mengoptimalkan pengobatan pasien, meminimalkan waktu rawat inap, efektivitas biaya dan mengembangkan farmasi klinik di RSU Dr. Saiful Anwar Malang. Dan pemantauan dampak positif hasil perbaikan tetap dilakukan secara rutin untuk mempertahankan hasil yang telah dicapai.

Prize-giving for Competition

The Winner

 

Knowledge Upgrading Bagi Apoteker RSSA

Sejak dikembangkannya unit Pelayanan Informasi Obat (PIO) oleh Instalasi Farmasi RSU Dr Saiful Anwar Malang, untuk pertama kalinya PIO menyelenggarakan pelatihan bagi Apoteker yang dilaksanakan pada Selasa, 5 Juli 2011 di Ruang Trowulan Instalasi Farmasi. Adapun tema yang diambil adalah Knowledge Upgrading Bagi Apoteker RSSA, dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan Apoteker dalam pencarian sumber informasi ilmiah sehingga dapat menunjang pelayanan farmasi klinik Instalasi Farmasi RSSA.

Dalam acara tersebut, PIO Instalasi Farmasi RSSA mendatangkan narasumber Dr. Suharjono, Apt., MS yang merupakan praktisi pada Drug Information Unit Fakultas Farmasi Universitas Airlangga Surabaya. Materi yang disampaikan narasumber berjudul Pemanfaatan Sumber Informasi Ilmiah Secara Maksimal, mengulas tentang jenis sumber informasi, upaya maksimal dalam memanfaatkan sumber informasi ilmiah, trik-trik dalam googling, dan daftar website sumber ilmiah. Apoteker yang hadir sangat antusias menyimak materi yang disajikan, banyak pertanyaan yang diajukan kepada narasumber dan mereka semakin antusias ketika mempraktekkan pencarian sumber informasi di website.

Praktek googling dimulai dengan memanfaatkan www.gigapedia.com yang telah berubah menjadi www.library.nu untuk mendapatkan sumber informasi tersier seperti Stockley Drugs Interaction. Kemudian googling dilanjutkan dengan mencoba http://toxnet.nlm.nih.gov./, www.medscape.com  dalam mencari abstrak jurnal. Selain mencoba langsung dengan mengetik alamat website, juga dipraktekkan bagaimana menggunakan kata kunci seperti hospital pharmacy journal, pmc journal, dan sebagainya.

Pelatihan yang berlangsung hampir 5 jam, berakhir tepat pada pukul 14.30. Banyak sekali catatan yang dapat digunakan sebagai bekal dalam menjalankan unit PIO. Dan pada akhir acara, narasumber menyampaikan kesediaannya untuk menjadi mitra ketika kami para Apoteker RSSA kesulitan mencari sumber informasi ilmiah.

Dokumentasi Farmasis

“Kerjakan yang kamu catat dan catat yang dikerjakan” merupakan kalimat yang bermakna bahwa setiap tahapan proses yang dilakukan harus didokumentasikan. Kalimat tersebut sering ku dengar ketika kuliah bidang minat industri farmasi, magang di industri farmasi di citereup, bogor dan tempat aku bekerja di solo. Namun alangkah kagetnya saat aku baru masuk kerja di bagian pediatrik rumah sakit pada awal tahun 2008, bahwa aku menjumpai minimnya pendokumentasian kegiatan farmasis di ruangan/ward. Pendokumentasian yang ada hanya lembar pengendalian pemberian obat sedangkan kegiatan farmasis yang berhubungan dengan pasien belum terdokumentasikan. Sejak saat itulah aku selalu berusaha mengembangkan dokumentasi farmasis.

Dokumentasi farmasis bermula dari log book yang mencatat semua aktivitas harianku, mulai dari mengabsen pasien, mengecek ketersediaan obat, melihat terapi pasien, meminta resep ke dokter, menyiapkan-distribusi obat, meng-update kondisi pasien hingga konfirmasi ke dokter. Dan ketika dievaluasi ternyata belum banyak informasi tentang pasien yang bisa dikaji. Pengembangan terus berlanjut meskipun aku pindah ke bagian obstetric dan bagian bedah anak serta combustio. Setiap selesai perbaikan, aku selalu mengujicobakan untuk mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencatat, data apa saja yang bisa ku rekam untuk melakukan pengkajian terapi pasien. Setelah berulang kali merubah format, akhirnya di bulan agustus 2010 aku mendapatkan format yang cukup memadai untuk menggambarkan kegiatan farmasis, perkembangan terapi, perbaikan kondisi hingga permasalahan terkait obat.

Format dokumentasi farmasis yang aku kembangkan terdiri dari 5 lembar L1-L5. L1 berisi  tentang demografi pasien; L2 berisi terapi pasien dan aktivitas farmasis; L3 tanda-tanda vital (obyektif), tanda-tanda  klinis (subyektif) dan catatan kemajuan/perkembangan; L4 data laboratorium; dan L5 lembar DRP (Drug Related-Problem). Lembar tersebut telah digunakan oleh tim farmasi klinik PPRA dan mahasiswa ketika mencari studi kasus.

Aku menyadari bahwa tidak mudah menerapkan penggunaan dokumentasi farmasis di setiap ruangan mengingat beban kerja teman-teman apoteker yang masih berkutat pada manajerial. Namun rasa optimisku akan penerapan dokumentasi farmasis tetap ada karena mereka mempunyai minat yang besar terhadap patient-oriented pharmaceutical care. Semoga lembar ini dapat berguna dan menunjang peran farmasis.

Audit Kuantitatif Antibiotika

Pada kesempatan kali ini, aku ingin membahas tentang audit penggunaan antibiotika secara kuantitatif. Kebetulan akhir januari 2011 kemarin, beberapa apoteker di tempat kerjaku  mengikuti workshop “Peran Aktif Farmasis Pada Pengelolaan Kasus Infeksi dan Pengendalian Penggunaan Antibiotik” yang diadakan oleh Tim PPRA RSU Dr Soetomo Surabaya dan hasilnya telah dipresentasikan pada teman-teman farmasis pada pertemuan rutin Weekly Report. Hasil workshop tersebut akan ku padukan dengan ilmu yang ku dapat saat mengikuti pre conference workshop “Antimicrobial Stewardship Program” di The 10th ACCP Singapore.

Perhitungan kuantitatif antibiotika bertujuan untuk mengetahui pola penggunaan antibiotika di rumah sakit maupun komunitas. Pengambilan data dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Perhitungan secara langsung antara lain dengan jumlah antibiotika yang digunakan (gram), Defined Daily Doses (DDD), lama pemberian terapi / prescribed daily dose. Sedangkan cara tidak langsung adalah biaya pembelanjaan antibiotika dan jumlah antibiotika yang dibeli.

Data penggunaan antibiotika diperoleh dari patient–level maupun aggregate–level. Dari Patient-level data akan diketahui hubungan antara sebelum-saat penggunaan antibiotika dengan resistensi antibiotika, hubungan antara penggunaan antibiotika dengan hasil luaran klinis; dan sebagai pelengkap pada aggregate–level data.

Klasifikasi antibiotika berdasarkan Anatomical Therapeutic Chemical Classification System (ATC) terdiri dari 5 tingkat yaitu grup anatomi utama (antiinfeksi untuk penggunaan sistemik), grup terapi (antibakteri untuk penggunaan sistemik), grup farmakologi (golongan antibakteri), sub grup farmakologi, dan nama kimia antibiotika. Contoh ATC Code Ampicillin :

ATC Code Keterangan
J Antiinfeksi untuk penggunaan sistemik
J01 Antibakteri untuk penggunaan sistemik
J01C Antibakteri Beta-laktam
J01CA Penicillin
J01CA01 Ampicillin

Untuk audit kuantitatif di Indonesia, Tim PPRA Kemenkes menggunakan patient-level data dengan perhitungan Defined Daily Dose (DDD)/100 patient-days. Patient–level data diperoleh dari Rekam Penggunaan Obat/Antibiotika (RPO/RPA). Data yang harus di ketahui meliputi jumlah antibiotika yang digunakan (gram), length of stay/lama rawat inap, dan DDD (WHO). Adapun cara perhitungannya sebagai berikut :

(Total jumlah antibiotika yang digunakan (Gram)/ DDD (WHO)) x ( 100 / (length of stay))

Perhitungan tersebut berlaku untuk tiap antibiotika yang digunakan. Kode ATC dan DDD antibiotika dapat dilihat pada ABC Calc ataupun di ATC/DDD Index 2006. Disamping itu, DDD/100 patient-days  dapat dihitung menggunakan ABC Calc dengan memasukkan data :

Parameter Keterangan
Sheet “Enter Consumption Data”
Name of product Nama obat
Grams per unit dose Kekuatan sediaan per tablet/kapsul/vial/ml
Nr. unit doses per package Jumlah dalam tiap kemasan

Contoh : 100 tab/box, 6 vial/box

Nr.packages Jumlah total kemasan yang digunakan
Sheet “Enter hospital data-Get Results”
Nr. beds Jumlah bed
Occupancy index (during study period)  
Nr. days (during study period) Length of stay
Nr. bed-days 100 (untuk inpatient)

1000 (untuk outpatient)

Semoga informasi bisa bermanfaat bagi teman-teman farmasis yang terlibat dalam tim PPRA di rumah sakit masing-masing.

 

Sumber :

  • Gould, IM., Van der Meer, JWM. 2005. Antibiotic Policies : Theory and Practice. New York (USA) : Kluwer Academic/Plenum Publishers. Ch. 5-7
  • Monnet DL. ABC Calc – Antibiotic Consumption calculator [Microsoft®Excel Application]. Version 3.1. Copenhagen (Denmark) : Statens Serum Institute; 2006.
  • Aantomical Therapeutic Chemical (ATC) classification index with Defined Daily Doses (DDDs). Oslo (Norway) : WHO Collaborating Centre for Drug Statistic Methodology; 2006.

Indonesia Quality Convention 2010

Alhamadulillah…..adalah kata yang terucap ketika nama QCC PADI dari RSU dr Saiful Anwar Malang dipanggil sebagai pemenang medali emas dengan predikat nilai terbaik ketiga dalam ajang Indonesia Quality Convention (IQC) 2010 yang diadakan oleh PMMI pada tanggal 30 Novemver – 3 Desember 2010 di Hard Rock Hotel Bali. IQC ini diikuti oleh 58 tim dari berbagai perusahaan baik perusahaan BUMN, PMDN maupun PMA.

Prestasi ini sangat membanggakan kami karena untuk pertama kalinya QCC PADI ikut serta dalam ajang ini dan mampu meraih medali emas. Perolehan medali ini juga sebagai bukti bahwa kami mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan besar seperti Toyota, Semen Gresik, Djarum dan lain-lain dalam penerapan manajemen mutu. Disamping itu, RSU dr Saiful Anwar juga memperoleh penghargaan sebagai instansi yang telah 5 tahun ikut serta dalam IQC.

 

Kualitas dan Kuantitas Penggunaan Antibiotika

Penggunaan antibiotika yang tidak tepat merupakan salah satu penyebab terjadinya resistensi antibiotika. Resistensi antibiotika telah menjadi permasalahan serius dalam dunia kesehatan di berbagai negara termasuk Indonesia dan memerlukan penanganan yang khusus.

Untuk mengurangi permasalahan tersebut, pada tahun 2005 Departemen Kesehatan Indonesia mengeluarkan pedoman yang berjudul Antimicrobial Resistance, Antibiotic Usage and Infection Control : A Self-assessment Program for Indonesian Hospital. Dalam pedoman tersebut dicantumkan beberapa kegiatan yang melibatkan berbagai macam unsur di rumah sakit, meliputi Sub Komite Farmasi dan Terapi, Sub Komite Pengendalian Infeksi, Mikrobiologi Klinik dan Instalasi Farmasis, yang tergabung dalam Tim Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA). Tim Farmasi Klinik –wakil dari Instalasi Farmasi– memiliki kewenangan untuk melakukan evaluasi penggunaan antibiotika secara kualitas dan kuantitas.

Sumber data penggunaan antibiotika dapat diperoleh dari data pembelian, catatan penyiapan antibiotika maupun rekaman pemberian antibiotika.

Pengkajian kuantititas menggunakan Defined Daily Doses (DDD) sesuai yang telah ditetapkan oleh WHO dengan klasifikasi berdasarkan Anatomical Therapeutic Chemical (ATC). DDD adalah dosis rata-rata harian untuk indikasi tertentu pada orang dewasa. Perhitungan DDD dapat juga menggunakan ABC Calc, yang telah digunakan oleh negara-negara di Eropa. Untuk penggunaan di rumah sakit, dihitung sebagai DDD per 100 patient-days.

Sedang pengkajian kualitas antibiotika menggunakan alur Gyssens yang terbagi dalam 6 kategori dan dinyatakan dalam persentase. Kategori pengkajian kualitas antibiotika antara lain penggunaan tepat (I), penggunaan tidak tepat dosis (II A), tidak tepat interval (II B) dan tidak tepat cara pemberian (II C), penggunaan tidak tepat karena terlalu lama (III A) dan terlalu singkat (III B), penggunaan tidak tepat karena ada antibiotika lain yang lebih efektif (IV A), kurang toksik (IV B), lebih murah (IV C) dan lebih spesifik  (IV D), penggunaan antibiotic tanpa ada indikasi (V) serta rekam medik tidak lengkap untuk dievaluasi (VI). Pengkajian secara kualitas tidak dapat dilakukan sendiri oleh tim farmasi klinik, tetapi harus melibatkan tim lain – mikrobiologi klinik dan patologi klinik – untuk mendapat hasil evaluasi yang memadai.

Makanan Bagi Ibu Menyusui

Berikut adalah sedikit ilmu tentang gizi yang saya dapat ketika di ruangan obstetrik.

Pada dasarnya, makanan untuk ibu menyusui tidaklah jauh berbeda dengan hidangan sehari-hari, yaitu  4 sehat 5 sempurna. Komposisi makanan harus seimbang, terdiri dari makanan pokok (nasi, jagung, kentang, ubi, roti, mie dan sebagainya), lauk pauk, sayuran, buah serta susu. Manfaat makanan tersebut untuk memulihkan kondisi fisik setelah melahirkan dan meningkatkan produksi ASI untuk bayi.

Lauk pauk bisa diperoleh dari jenis hewani dan nabati, seperti telur, daging ayam, ikan segar, tahu, tempe dan lain-lain. Bila alergi dengan jenis makanan tertentu, dapat diganti dengan makanan yang lain, yang cukup dalam memenuhi kebutuhan kalori.

Untuk sayuran, dianjurkan memilih sayuran yang berwarna karena dapat membantu merangsang pengeluaran/produksi ASI. Sedangkan untuk buah-buahan, juga dipilih yang berwarna karena kandungan vitamin dan mineral yang banyak. Beberapa contoh sayuran dan buah-buahan adalah bayam, kangkung, wortel, jeruk, apel, tomat dan lain-lain.

Agar fungsi sistem pencernaan tetap  berjalan baik, sebaiknya menghindari makanan yang merangsang seperti makanan yang terlalu pedas, terlalu dingin, terlalu panas dan mengandung alkohol. Disamping itu, minum dalam jumlah cukup sekitar 6-8 gelas per hari. Akan lebih bermanfaat jika disertai minuman seperti susu, sari buah dan sebagainya.

Non adherence : ORS, Zinc & Probiotic

Dalam berbagai referensi disebutkan bahwa ORS dengan osmolaritas rendah dan zinc digunakan dalam penatalaksanaan diare pada anak. Selain itu ada referensi lain yang menyebutkan penggunaan probiotik untuk penanganan diare.

Pada kesempatan kali ini, saya –farmasis ruangan– ingin membagikan pengalaman penggunaan oralit, zinc dan probiotic selama di ruangan gastroenterologi ilmu kesehatan anak RSU Dr Saiful Anwar Malang, yang sebagian besar pasiennya menggunakan Jamkesmas atau SKTM ketika berobat.

Penyakit yang sering dijumpai pada ruang gastroenterology adalah diare akut, baik tanpa dehidrasi, dengan dehidrasi ringan sampai dehidrasi berat. Untuk terapi diare diberikan oralit 10-20 cc/kgBB/diare, suplemen zinc (Zinkid®) 10-20mg/hari dan probiotik 1 sachet/hari. Bila disertai dengan dehidrasi, diberikan infus KAEN 3B®, yang mengandung glukosa, NaCl, dan laktat, dengan dosis tergantung derajat dehidrasi. Oralit diberikan pada pasien dengan status gizi baik. Sedangkan untuk pasien dengan status gizi kurang dan gizi buruk diberikan ReSoMal (Rehydration Solution for Malnutrition).

Dari aspek kefarmasian, non adherence / ketidakpatuhan merupakan permasalahan terkait obat (drug related problem/DRP) yang banyak ditemukan. Penyebab munculnya ketidakpatuhan pada terapi diare antara lain karena tidak memahami instruksi/cara minum obat, lebih memilih tidak minum obat karena muntah ataupun tidak suka rasa obatnya, harga zinc (Zinkid®) dan probiotik yang cukup mahal. Munculnya DRP tersebut mengharuskan saya terlibat aktif dalam mencapai keberhasilan terapi. Ada beberapa cara yang telah saya coba lakukan untuk meningkatkan kepatuhan pasien demi tercapainya keberhasilan terapi.

Tidak memahami instruksi/cara minum obat, muntah atau tidak suka terhadap rasa. Banyak keluarga pasien yang tidak mengetahui cara minum obat, baik Zinkid®, oralit maupun probiotik. Perlu diberi penjelasan bagaimana cara  yang sesuai untuk masing-masing obat. Untuk Zinkid®, tablet dilarutkan dalam 1 sendok air matang sebelum diminumkan. Oralit 1 sachet dilarutkan dalam 200 cc air matang, kemudian diminumkan seteguk demi seteguk menggunakan sendok hingga sesuai dosis dan tidak meminumkannya melalui botol/dot. Oralit harus habis dalam 24 jam. Sedangkan untuk probiotik, dapat dicampurkan dalam susu.

Setelah memberikan penjelasan cara meminumkan, ternyata masih timbul masalah lainnya, yaitu tidaklah mudah untuk meminumkan oralit dan Zinkid® pada anak-anak. Para orang tua sering mengeluh bahwa anaknya tidak menyukai rasa dari oralit dan muntah ketika minum Zinkid®. Perlu diketahui bahwa ada 2 macam oralit, yaitu oralit tanpa essen dan yang dengan essen jeruk. Bila pasien lebih menyukai oralit yang beressen, maka diberikan oralit essen jeruk dan sebaliknya, atau bila lebih menyukai rasa yang lain dapat diberikan Pedialyte®. Namun Pedialyte® tidak termasuk dalam daftar obat yang telah ditetapkan ASKES. Selain tidak suka rasa oralit, kesulitan memberikan oralit seteguk demi seteguk juga muncul. Agar rehidrasi oral tetap dapat diberikan, maka oralit dapat diberikan melalui botol/dot. Cara tersebut cukup membantu tanpa disertai munculnya kembung akibat minum yang terlalu cepat.

Untuk mencegah muntah setelah minum Zinkid®, Zinkid® dapat dilarutkan dengan oralit dan diencerkan dengan tidak lebih dari 2 sendok makan oralit. Oralit cukup membantu menutupi rasa logam dari zinc yang dapat menyebabkan muntah. Untuk pasien yang menggunakan NGT (naso gastric tube), Zinkid® harus dilarutkan dengan air matang yang lebih banyak untuk menghindari terjadinya sumbatan pada NGT.

Harga Zinkid® dan Probiotik yang cukup mahal. Zinkid® dan probiotik juga tidak masuk dalam daftar obat ASKES. Harga yang cukup mahal juga menjadi alasan ketidakpatuhan. Harga 5 biji Zinkid® (20mg/tab) sekitar Rp. 15-20 ribu, sedangkan harga probiotik per sachet atau per kapsul bisa mencapai Rp. 3-5 ribu. Berdasarkan pedoman WHO, penggunaan zinc sekitar 10-14 hari. Biasanya pasien hanya membeli separuh dari resep (untuk 5 hari) atau sesuai dengan daya belinya. Pemberian zinc dan probiotik memang dapat mempercepat proses penyembuhan diare, meskipun pasien hanya minum sekitar 3-5 hari.

Plagiarism

Sering kita mendengar berita tentang peniruan hasil karya seperti kemiripan music, buku, yang lazim disebut sebagai plagiat atau plagiarism. Ternyata tanpa kita sadari, plagiat juga terjadi pada dunia ilmiah. Sebagai contoh ketika kita mengutip kalimat yang terdapat pada jurnal -umumnya publikasi internasional- tanpa disertai referensi atau asal kalimat tersebut dikutip, meminta tolong orang lain membuatkan makalah. Hal itu sering terjadi, terutama pada dunia ilmiah, dikarenakan kurangnya pengetahuan. Salah satu apoteker senior mengatakan bahwa plagiarism dalam dunia ilmiah tidaklah dibenarkan, bahkan merupakan suatu kesalahan yang fatal.

Berikut beberapa macam plagiat yang dapat kita temui dan hal yang seharusnya dilakukan, antara lain :

–    Mengutip persis yang terdapat dalam referensi – diberi tanda petik pada kalimat yang dikutip atau dicetak miring (italic) yang disertai sumber referensinya.

–    Paraphrasing / mengubah kalimat – dicantumkan sumber referensi, kalimat tidak dicetak miring.

–    Image / Gambar – disertakan sumber referensi.

–    Translate / menerjemahkan – dicantumkan sumber referensi.

–    Collusion / meminta bantuan orang lain termasuk sponsorship, berdiskusi – minimal dicantumkan dalam acknowledgement.

–    Public domain – dicantumkan alamat website dan kapan diakses.

–    Incorrect referencing – dicantumkan sumber referensi.

–    Common knowledge – tidak perlu dicantumkan sumber referensi.

Adapun contoh plagiat yang sering saya jumpai di lingkungan kerja antara lain ketika salah satu senior meminta dibuatkan makalah atau slide yang akan dipresentasikan di suatu acara seminar tanpa adanya acknowledgement terhadap pembuat makalah, membuat semacam buku dengan mengutip sebagian besar isi buku lain yang kemudian diakui sebagai pekerjaannya-yang sebenarnya tidak pernah dilakukan- dan tanpa dicantumkan sumber referensinya, membuat slide presentasi tanpa disertai referensi, meminta bantuan mengerjakan pembahasan terhadap suatu kasus penyakit tanpa acknowledgment. Namun sayangnya hal itu masih dianggap wajar atau tidak mendapat perhatian khusus mengingat posisi orang yang melakukannya adalah lebih tinggi jabatannya atau lebih senior.

Dengan mengetahui bagaimana sebenarnya plagiarism, diharapkan kita dapat meminimalkan terjadinya plagiat dan terpenuhinya standar penulisan ilmiah. Disamping itu juga akan membuat kita lebih menghargai hasil karya / hasil pemikiran orang lain.

Design a site like this with WordPress.com
Get started