Dokumentasi Farmasis

“Kerjakan yang kamu catat dan catat yang dikerjakan” merupakan kalimat yang bermakna bahwa setiap tahapan proses yang dilakukan harus didokumentasikan. Kalimat tersebut sering ku dengar ketika kuliah bidang minat industri farmasi, magang di industri farmasi di citereup, bogor dan tempat aku bekerja di solo. Namun alangkah kagetnya saat aku baru masuk kerja di bagian pediatrik rumah sakit pada awal tahun 2008, bahwa aku menjumpai minimnya pendokumentasian kegiatan farmasis di ruangan/ward. Pendokumentasian yang ada hanya lembar pengendalian pemberian obat sedangkan kegiatan farmasis yang berhubungan dengan pasien belum terdokumentasikan. Sejak saat itulah aku selalu berusaha mengembangkan dokumentasi farmasis.

Dokumentasi farmasis bermula dari log book yang mencatat semua aktivitas harianku, mulai dari mengabsen pasien, mengecek ketersediaan obat, melihat terapi pasien, meminta resep ke dokter, menyiapkan-distribusi obat, meng-update kondisi pasien hingga konfirmasi ke dokter. Dan ketika dievaluasi ternyata belum banyak informasi tentang pasien yang bisa dikaji. Pengembangan terus berlanjut meskipun aku pindah ke bagian obstetric dan bagian bedah anak serta combustio. Setiap selesai perbaikan, aku selalu mengujicobakan untuk mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencatat, data apa saja yang bisa ku rekam untuk melakukan pengkajian terapi pasien. Setelah berulang kali merubah format, akhirnya di bulan agustus 2010 aku mendapatkan format yang cukup memadai untuk menggambarkan kegiatan farmasis, perkembangan terapi, perbaikan kondisi hingga permasalahan terkait obat.

Format dokumentasi farmasis yang aku kembangkan terdiri dari 5 lembar L1-L5. L1 berisi  tentang demografi pasien; L2 berisi terapi pasien dan aktivitas farmasis; L3 tanda-tanda vital (obyektif), tanda-tanda  klinis (subyektif) dan catatan kemajuan/perkembangan; L4 data laboratorium; dan L5 lembar DRP (Drug Related-Problem). Lembar tersebut telah digunakan oleh tim farmasi klinik PPRA dan mahasiswa ketika mencari studi kasus.

Aku menyadari bahwa tidak mudah menerapkan penggunaan dokumentasi farmasis di setiap ruangan mengingat beban kerja teman-teman apoteker yang masih berkutat pada manajerial. Namun rasa optimisku akan penerapan dokumentasi farmasis tetap ada karena mereka mempunyai minat yang besar terhadap patient-oriented pharmaceutical care. Semoga lembar ini dapat berguna dan menunjang peran farmasis.

About Aku Farmasis
A Hospital Staff at Department of Pharmacy, Dr. Saiful Anwar Hospital (RSSA), Malang – Indonesia (2008-present) : • A Secretary of Clinical Pharmacist Team in Antimicrobial Resistance Control Program (2009-present) • Pharmacist at Division of Infection, Department of Pediatrics ( February 2010-present) • Pharmacist at Obstetric Ward, Department of Obstetric and Gynecology (2009-January 2010) • Pharmacist at Division of Infection, Department of Pediatrics (2008-2009) Involved in DFID-DelPHE project (Department for International Development-Development of Partnership in Higher Education), between Faculty of Medicine Brawijaya University (Indonesia) and School of Pharmacy University of London (UK): Clinical Pharmacy Service Development for the Poorer Patients. A Quality Assurance Staff at PT. Ifars Pharm. Lab, Solo (2007) A Junior Pharmacist at Apotek Srii, Sidoarjo (2006)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: