Non adherence : ORS, Zinc & Probiotic

Dalam berbagai referensi disebutkan bahwa ORS dengan osmolaritas rendah dan zinc digunakan dalam penatalaksanaan diare pada anak. Selain itu ada referensi lain yang menyebutkan penggunaan probiotik untuk penanganan diare.

Pada kesempatan kali ini, saya –farmasis ruangan– ingin membagikan pengalaman penggunaan oralit, zinc dan probiotic selama di ruangan gastroenterologi ilmu kesehatan anak RSU Dr Saiful Anwar Malang, yang sebagian besar pasiennya menggunakan Jamkesmas atau SKTM ketika berobat.

Penyakit yang sering dijumpai pada ruang gastroenterology adalah diare akut, baik tanpa dehidrasi, dengan dehidrasi ringan sampai dehidrasi berat. Untuk terapi diare diberikan oralit 10-20 cc/kgBB/diare, suplemen zinc (Zinkid®) 10-20mg/hari dan probiotik 1 sachet/hari. Bila disertai dengan dehidrasi, diberikan infus KAEN 3B®, yang mengandung glukosa, NaCl, dan laktat, dengan dosis tergantung derajat dehidrasi. Oralit diberikan pada pasien dengan status gizi baik. Sedangkan untuk pasien dengan status gizi kurang dan gizi buruk diberikan ReSoMal (Rehydration Solution for Malnutrition).

Dari aspek kefarmasian, non adherence / ketidakpatuhan merupakan permasalahan terkait obat (drug related problem/DRP) yang banyak ditemukan. Penyebab munculnya ketidakpatuhan pada terapi diare antara lain karena tidak memahami instruksi/cara minum obat, lebih memilih tidak minum obat karena muntah ataupun tidak suka rasa obatnya, harga zinc (Zinkid®) dan probiotik yang cukup mahal. Munculnya DRP tersebut mengharuskan saya terlibat aktif dalam mencapai keberhasilan terapi. Ada beberapa cara yang telah saya coba lakukan untuk meningkatkan kepatuhan pasien demi tercapainya keberhasilan terapi.

Tidak memahami instruksi/cara minum obat, muntah atau tidak suka terhadap rasa. Banyak keluarga pasien yang tidak mengetahui cara minum obat, baik Zinkid®, oralit maupun probiotik. Perlu diberi penjelasan bagaimana cara  yang sesuai untuk masing-masing obat. Untuk Zinkid®, tablet dilarutkan dalam 1 sendok air matang sebelum diminumkan. Oralit 1 sachet dilarutkan dalam 200 cc air matang, kemudian diminumkan seteguk demi seteguk menggunakan sendok hingga sesuai dosis dan tidak meminumkannya melalui botol/dot. Oralit harus habis dalam 24 jam. Sedangkan untuk probiotik, dapat dicampurkan dalam susu.

Setelah memberikan penjelasan cara meminumkan, ternyata masih timbul masalah lainnya, yaitu tidaklah mudah untuk meminumkan oralit dan Zinkid® pada anak-anak. Para orang tua sering mengeluh bahwa anaknya tidak menyukai rasa dari oralit dan muntah ketika minum Zinkid®. Perlu diketahui bahwa ada 2 macam oralit, yaitu oralit tanpa essen dan yang dengan essen jeruk. Bila pasien lebih menyukai oralit yang beressen, maka diberikan oralit essen jeruk dan sebaliknya, atau bila lebih menyukai rasa yang lain dapat diberikan Pedialyte®. Namun Pedialyte® tidak termasuk dalam daftar obat yang telah ditetapkan ASKES. Selain tidak suka rasa oralit, kesulitan memberikan oralit seteguk demi seteguk juga muncul. Agar rehidrasi oral tetap dapat diberikan, maka oralit dapat diberikan melalui botol/dot. Cara tersebut cukup membantu tanpa disertai munculnya kembung akibat minum yang terlalu cepat.

Untuk mencegah muntah setelah minum Zinkid®, Zinkid® dapat dilarutkan dengan oralit dan diencerkan dengan tidak lebih dari 2 sendok makan oralit. Oralit cukup membantu menutupi rasa logam dari zinc yang dapat menyebabkan muntah. Untuk pasien yang menggunakan NGT (naso gastric tube), Zinkid® harus dilarutkan dengan air matang yang lebih banyak untuk menghindari terjadinya sumbatan pada NGT.

Harga Zinkid® dan Probiotik yang cukup mahal. Zinkid® dan probiotik juga tidak masuk dalam daftar obat ASKES. Harga yang cukup mahal juga menjadi alasan ketidakpatuhan. Harga 5 biji Zinkid® (20mg/tab) sekitar Rp. 15-20 ribu, sedangkan harga probiotik per sachet atau per kapsul bisa mencapai Rp. 3-5 ribu. Berdasarkan pedoman WHO, penggunaan zinc sekitar 10-14 hari. Biasanya pasien hanya membeli separuh dari resep (untuk 5 hari) atau sesuai dengan daya belinya. Pemberian zinc dan probiotik memang dapat mempercepat proses penyembuhan diare, meskipun pasien hanya minum sekitar 3-5 hari.

About Aku Farmasis
A Hospital Staff at Department of Pharmacy, Dr. Saiful Anwar Hospital (RSSA), Malang – Indonesia (2008-present) : • A Secretary of Clinical Pharmacist Team in Antimicrobial Resistance Control Program (2009-present) • Pharmacist at Division of Infection, Department of Pediatrics ( February 2010-present) • Pharmacist at Obstetric Ward, Department of Obstetric and Gynecology (2009-January 2010) • Pharmacist at Division of Infection, Department of Pediatrics (2008-2009) Involved in DFID-DelPHE project (Department for International Development-Development of Partnership in Higher Education), between Faculty of Medicine Brawijaya University (Indonesia) and School of Pharmacy University of London (UK): Clinical Pharmacy Service Development for the Poorer Patients. A Quality Assurance Staff at PT. Ifars Pharm. Lab, Solo (2007) A Junior Pharmacist at Apotek Srii, Sidoarjo (2006)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: