Plagiarism

Sering kita mendengar berita tentang peniruan hasil karya seperti kemiripan music, buku, yang lazim disebut sebagai plagiat atau plagiarism. Ternyata tanpa kita sadari, plagiat juga terjadi pada dunia ilmiah. Sebagai contoh ketika kita mengutip kalimat yang terdapat pada jurnal -umumnya publikasi internasional- tanpa disertai referensi atau asal kalimat tersebut dikutip, meminta tolong orang lain membuatkan makalah. Hal itu sering terjadi, terutama pada dunia ilmiah, dikarenakan kurangnya pengetahuan. Salah satu apoteker senior mengatakan bahwa plagiarism dalam dunia ilmiah tidaklah dibenarkan, bahkan merupakan suatu kesalahan yang fatal.

Berikut beberapa macam plagiat yang dapat kita temui dan hal yang seharusnya dilakukan, antara lain :

–    Mengutip persis yang terdapat dalam referensi – diberi tanda petik pada kalimat yang dikutip atau dicetak miring (italic) yang disertai sumber referensinya.

–    Paraphrasing / mengubah kalimat – dicantumkan sumber referensi, kalimat tidak dicetak miring.

–    Image / Gambar – disertakan sumber referensi.

–    Translate / menerjemahkan – dicantumkan sumber referensi.

–    Collusion / meminta bantuan orang lain termasuk sponsorship, berdiskusi – minimal dicantumkan dalam acknowledgement.

–    Public domain – dicantumkan alamat website dan kapan diakses.

–    Incorrect referencing – dicantumkan sumber referensi.

–    Common knowledge – tidak perlu dicantumkan sumber referensi.

Adapun contoh plagiat yang sering saya jumpai di lingkungan kerja antara lain ketika salah satu senior meminta dibuatkan makalah atau slide yang akan dipresentasikan di suatu acara seminar tanpa adanya acknowledgement terhadap pembuat makalah, membuat semacam buku dengan mengutip sebagian besar isi buku lain yang kemudian diakui sebagai pekerjaannya-yang sebenarnya tidak pernah dilakukan- dan tanpa dicantumkan sumber referensinya, membuat slide presentasi tanpa disertai referensi, meminta bantuan mengerjakan pembahasan terhadap suatu kasus penyakit tanpa acknowledgment. Namun sayangnya hal itu masih dianggap wajar atau tidak mendapat perhatian khusus mengingat posisi orang yang melakukannya adalah lebih tinggi jabatannya atau lebih senior.

Dengan mengetahui bagaimana sebenarnya plagiarism, diharapkan kita dapat meminimalkan terjadinya plagiat dan terpenuhinya standar penulisan ilmiah. Disamping itu juga akan membuat kita lebih menghargai hasil karya / hasil pemikiran orang lain.

About Aku Farmasis
A Hospital Staff at Department of Pharmacy, Dr. Saiful Anwar Hospital (RSSA), Malang – Indonesia (2008-present) : • A Secretary of Clinical Pharmacist Team in Antimicrobial Resistance Control Program (2009-present) • Pharmacist at Division of Infection, Department of Pediatrics ( February 2010-present) • Pharmacist at Obstetric Ward, Department of Obstetric and Gynecology (2009-January 2010) • Pharmacist at Division of Infection, Department of Pediatrics (2008-2009) Involved in DFID-DelPHE project (Department for International Development-Development of Partnership in Higher Education), between Faculty of Medicine Brawijaya University (Indonesia) and School of Pharmacy University of London (UK): Clinical Pharmacy Service Development for the Poorer Patients. A Quality Assurance Staff at PT. Ifars Pharm. Lab, Solo (2007) A Junior Pharmacist at Apotek Srii, Sidoarjo (2006)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: