Siti Nabila

Hidup, mati, rejeki dan jodoh seseorang berada pada Allah SWT. Tak seorangpun yang mengetahui tentang rahasia tersebut termasuk kejadian hari ini. Satu lagi pasienku yang harus menghadap Sang Kuasa, 2 hari menjelang Ramadhan.

Siti Nabila namanya. Hari ini MRS untuk ketiga kalinya dengan keluhan sesak nafas. 2 kali MRS yang sebelumnya dengan diagnosa TB paru, gizi kurang dan sesak. KRS pertama karena pulang paksa dengan kondisi yang masih buruk sehingga mengakibatkan harus KRS lagi.

Saat MRS yang kedua, ibunya minta maaf ke dokter yang merawat dan aku karena tidak menuruti anjuran dari pihak dokter maupun farmasis. Sejak saat itu, sang ibu benar-benar menuruti anjuran-anjuran seperti mendorong sang anak untuk mau makan dan minum susu yang disediakan dari RS, teratur minum obat yang diberikan, nebul jika sesak dan lain-lain. Bahkan sang ibu mengiyakan ketika nabila harus diinjeksi Streptomisin 1 bulan lagi alias harus “menginap” 1 bulan karena kondisi yang diharapkan setelah treatment tidak sesuai. Setelah 1 bulan, terapi TB mulai menunjukkan perkembangan, berat badan meningkat, tidak lagi diare sehingga dokter memberikan ijin KRS.

Saat aku bertemu dengan bapaknya, beliau menjelaskan bahwa dua hari ini Nabila merasakan sesak nafas dan semakin sesak pada hari ini, langsung dibawa ke IRD. Setelah membaik, dibawa ke ruang HND untuk diobservasi. Ternyata tidak lama kemudian, nyawanya tidak tertolong. Bapak serta saudara-saudaranya terlihat ikhlas melepaskan Nabila, tetapi tidak badi sang ibu.

Dalam seminggu ini aku telah kehilangan beberapa pasienku, Khusnul, Fitri, Ibrahim dan terakhir Nabila. Aku berharap tidak akan ada lagi yang harus “pergi”, aku mengharapkan semua pasienku kembali ke rumah dalam kondisi yang baik/sehat. Benar-benar minggu yang berat karena selama ini aku selalu memonitor perkembangan mereka sehingga aku mengetahui keluh kesahnya. Tapi aku tidak bisa melawan kehendak Allah SWT, kondisi itu yang terbaik untuk mereka. Semoga mereka mendapatkan “tempat” yang terbaik.

Selamat jalan adek-adekku…

Advertisements

Before ACCP

Collecting prescription data helped by pharmacy students internship.

Inappropriate drug prescribing

In ACCP

Poster

My 1st poster in The 8th ACCP, titled Simplifying Antituberculotic Prescription For Children : Drug Prescription in Paediatrics Ward of Dr. Saiful Anwar Hospital, Malang-Indonesia.

In poster presentation session, i was explaining to Prof. Felicity Smith.

In ward

In Cardiology ward : Riki, Rohim, Cahya, Indah, Khusnia and me. They are diagnosed rheumatic fever, except Rohim who diagnosed Thalassaemia.

With hematology-oncology patients. They are Rohim (with NGT), Dicky, Khusnul (who was died on 25/8/2008) and me.

B24

My last meeting with Azura before she died.

Ibrahim

Pagi ini (28/8/2008) aku dikejutkan dengan berita meninggalnya Ibrahim. Dia pasienku di ruang neurologi, dengan diagnosa status epileptikus, multiple infarct cerebral dan obesitas.

Ternyata pertemuanku dengan Ibra kemarin siang adalah yang terakhir kalinya. Jujur aja berita tersebut membuatku terdiam sejenak karena mengingat kondisinya yang tanpa keluhan. Waktu aku visite, ibunya mengatakan bahwa Ibra sakit perut seperti mulas, dan Ibra menjawab sama ketika aku menanyakan apakah perutnya sakit dan keras sekali. Kondisi tersebut sudah aku sampaikan ke dokter yang merawatnya.

Siang itu ketika aku akan mengecek pasien Ridho, aku melihat Ibra tiduran di tengah jalan. Tidakada orang yang bisa mengajak dia masuk ke ruangan karena ibunya sudah kewalahan dengan polah Ibra. Akhirnya setelah aku ajak bicara, dia mau masuk ke ruangan bersama aku. Tidak lama kemudian dia keluar lagi, duduk di dekat lorong. Dia nggak mau masuk meskipun sudah aku bujuk. Ini tidak seperti biasanya.

Malamnya dia masuk HND dengan keluhan hematemesis profus tanpa henti. Obat yang dimungkinkan menyebabkan bleeding dihentikan, dilakukan resusitasi dua kali, syok baru dapat teratasi. Namun setelah itu, kondisinya langsung memburuk dan akhirnya meninggal.

Pagi ini aku coba konfirmasi dokter yang merawatnya dan mendapatkan jawaban dimungkinkan penyebab hematemesis adalah varises esofagus bila melihat kondisi hematemesisnya. Untuk memastikannya harus dilakukan otopsi. Namun jenazah pasien sudah dibawa pulang oleh keluarganya untuk dimakamkan. Sampai saat ini penyebab hematemesisnya masih menjadi teka-teki.

Semoga keluarganya, terutama ibunya, diberi ketabahan sebagaimana selama ini ikhlas merawat Ibra dengan penuh kesabaran, dan arwahnya diterima Allah SWT.

Selamat jalan adekku…