Pedoman Akreditasi RS

Akhir-akhir ini sering ku jumpai update status teman-temanku yang bekerja di rumah sakit tentang repotnya akreditasi, mulai dari yang belum punya gambaran tentang akreditasi hingga yang harus “tentiran” akreditasi. Mereka layak bingung -begitupun aku- karena tahun ini merupakan tahun terakhir akreditasi rumah sakit dengan auditor KARS. Sedangkan tahun 2012, Kemkes RI mencanangkan akreditasi rumah sakit menggunakan sistem JCI (Joint Committe International).

Untuk rumah sakit, ada 16 pelayanan yang harus terakreditasi termasuk pelayanan farmasi. Karena pelayanan farmasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pelayanan rumah sakit.

Berikut di bawah ini 7 standar pelayanan farmasi yang harus dipenuhi dalam akreditasi rumah sakit :

Standar

Parameter

Cara pembuktian

Std 1.

Falsafah dan Tujuan

S1.P1   Kebijakan pelayanan farmasi harus ditetapkan untuk mencerminkan Tujuan, Fungsi dan Cakupan Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit SK tentang kebijakan pelayanan farmasi dari pimpinan rumah sakit, bukti sosialisasi
S1.P2   Pelayanan farmasi diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan pasien Ketetapan tertulis mengenai Pengelolaan Perbekalan Farmasi dan Pelayanan Kefarmasian, SK Panitia Pengadaan dan Panitia Penerimaan yang mencantumkan staf farmasi sebagai anggota, Laporan, Catatan evaluasi 

Std 2.

Administrasi dan Pengelolaan

S2.P1   Adanya gaban organisasi lengkap yang menggambarkan garis tanggung jawab dan koordinasi di dalam maupun di luar pelayanan farmasi SK organisasi, Bagan organisasi dengan pejabatnya, uraian tugas, fungsi, wewenang dan tanggung jawab secara tertulis, bukti penyebaran informasi, catatan evaluasi
S2.P2   Komite/Sub-Komite/Panitia Farmasi dan Terapi (KFT) harus dibentuk di rumah sakit Program kerja, notulen dan laporan rapat, SK pembentukan KFT, jadwal kegiatan, kerangka acuan program, Formularium yang direvisi minimal setiap 3 tahun, Standar terapi (untuk RSU, minimal mencakup Pelayanan Medis Spesialistik Dasar), Laporan evaluasi penulisan resep dan penggunaan obat generic, Kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan penggunaan obat di rumah sakit, catatan evaluasi dan tindak lanjut 

Std 3.

Staf dan Pimpinan

S3.P1   Pelayanan farmasi dipimpin oleh apoteker Surat terdaftar di departemen kesehatan, surat terdaftar di asosiasi profesi, surat ijin kerja, surat persetujuan penempatan dari kanwil depkes setempat, surat keputusan direktur, ijasah, sertifikat 
S3.P2   Adanya tenaga kefarmasian yang cukup jumlah dan sesuai kualifikasinya Analisa kebutuhan tenaga kefarmasian, daftar tenaga kefarmasian, Sk penugasan dari pimpinan RS, ijasah, sertifikat
S3.P3   Ada evaluasi kinerja dari tenaga kefarmasian Ketentuan tertulis, prosedur evaluasi, hasil evaluasi, laporan, rekomendasi dan tindak lanjut

Std 4

Fasilitas dan Peralatan

S4.P1   Tersedianya ruang/tempat pengelolaan perbekalan farmasi dan pelayanan kefarmasian Denah RS yang memperlihatkan lokasi unit kerja farmasi, denah unit kerja farmasi dengan rincian ruang/tempat pengelolaan perbekalan farmasi dan pelayanan kefarmasian 
S4.P2   Adanya fasilitas peralatan yang cukup dan memenuhi syarat untuk mendukung kegiatan kefarmasian Daftar peralatan dan ketersediaannya masing-masing sesuai buku pedoman. Blanko copy resep, kartu stok, formulir laporan narkotika dan psikotropika, buku-buku kefarmasian, kumpulan resep 3 tahun terakhir, hasil evaluasi dan tindak lanjut, buku formularium RS setempat, dan dokumentasi pembuatan obat (bila ada kegiatan produksi) 

Std 5.

Kebijakan dan Prosedur

S5.P1   Ada kebijakan dan prosedur tertulis mengenai pengelolaan perbekalan farmasi SOP, catatan evaluasi dan tindak lanjut
S5.P2   Ada kebijakan dan prosedur tertulis mengenai pelayanan kefarmasian dalam penggunaan obat dan alat kesehatan Protap/SOP, laporan kegiatan kefarmasian, catatan evaluasi dan tindak lanjut

Std 6.

Pengembangan staf dan program pendidikan

S6.P1   Ada program orientasi bagi pegawai baru di instalasi/bagian farmasi agar dapat memahami tugas pekerjaan dan tanggung jawabnya Program orientasi, jadwal kegiatan, laporan pelaksanaan kegiatan, catatan evaluasi
S6.P2   Ada program pendidikan berkelanjutan, pelatihan ataupun pertemuan ilmiah bagi semua petugas untuk meningkatkan keterampilan, pengetahuan dan kemampuannya Program pendidikan dan pelatihan, jadwal kegiatan, laporan pelaksanaan kegiatan, catatan evaluasi, sertifikat

Std 7.

Evaluasi dan Pengendalian Mutu

S7.P1   Ada program/kegiatan  peningkatan mutu pelayanan kefarmasian yang ditetapkan oleh pimpinan RS Program tertulis peningkatan mutu pelayanan kefarmasian, jadwal kegiatan, laporan pelaksanaan kegiatan, catatan evaluasi, rekomendasi dan tindak lanjut
S7.P2   Tersedia data untuk digunakan sebagai dasar melakukan analisa dan evaluasi terhadap mutu pelayanan Data, catatan evaluasi, dan tindak lanjut
S7.P3   Instalasi/bagian farmasi harus menyelenggarakan pertemuan secara berkala untuk membicarakan masalah-masalah dalam meningkatkan pelayanan farmasi Ketetapan pimpinan RS tentang jadwal rapat, notulen rapat, daftar hadir, laporan, rekomendasi dan tindak lanjut
Advertisements

QCC PADI @ICQCC 2011 Yokohama

Tahun 2011 ini merupakan puncak prestasi bagi QCC PADI Instalasi Farmasi RSUD Dr Saiful Anwar Malang (RSSA). Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan QCC PADI mendapatkan Excellent Award pada ajang International Convention on QC Circle 2011 (ICQCC) Yokohama Jepang, yang diselengarakan pada tanggal 11-14 September 2011. Acara ini diikuti oleh tim QCC dari 13 negara se-Asia Pasifik, seperti Jepang, Taiwan, Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, India, dan negara lainnya.

Pada tahun ini Indonesia sendiri mengirimkan 10 tim QCC yang berasal dari berbagai perusahaan/instansi termasuk RSSA. Dari 10 tim tersebut, 9 tim QCC berhasil mendapatkan Excellent Award dan 1 Distinguish Award. Hasil yang diperoleh tersebut mengukuhkan Indonesia sebagai salah satu negara terbaik dalam penerapan QC Tools.

RSSA yang diwakili oleh QCC PADI beranggotakan Reta AW, S.Farm., Apt, Vicky Puspitasari, S.Farm., Apt, Indri Widyastuti, S.Farm., Apt dan 2 wakil manajemen RSSA. Tema perbaikan mutu yang diusung adalah “Menurunkan sisa antibiotika injeksi yang tidak habis terpakai pada pasien pediatrik”.

Latar belakang diambilnya tema tersebut berdasarkan banyaknya kejadian sisa obat injeksi pada pasien pediatrik dan hasil temuan SPI. Sehingga kepala instalasi farmasi menugaskan tim QCC PADI untuk menyelesaikan masalah tersebut karena jika tidak segera ditangani akan memberikan dampak negatif.

Untuk menangani masalah tersebut, QCC PADI menggunakan metode PDCA Tulta dalam melakukan perbaikan. Dengan dilakukannya perbaikan mutu maka diharapkan dapat membawa dampak positif diantaranya mengoptimalkan pengobatan pasien, meminimalkan waktu rawat inap, efektivitas biaya dan mengembangkan farmasi klinik di RSU Dr. Saiful Anwar Malang. Dan pemantauan dampak positif hasil perbaikan tetap dilakukan secara rutin untuk mempertahankan hasil yang telah dicapai.

Prize-giving for Competition

The Winner